Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 10 Desember 2012

Struktur Metode Ilmiah



      Suatu penelitian akan berhasil dengan baik apabila dilakukan sesuai dengan struktur metode ilmiah. Struktur metode ilmiah memiliki beberapa langkah yang terdiri atas perumusan masalah, pembuatan kerangka berpikir, penarikan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.

Berikut ini penjelasan masing-masing langkah metode ilmiah :


a. Perumusan Masalah

        Menurut Ritchie Colder, proses kegiatan ilmiah dimulai saat manusia tertarik pada sesuatu. Ketertarikan ini karena manusia mempunyai sifat perhatian. Pada saat manusia tertarik pada sesuatu, sering dalam pikirannya timbul berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menurut John Dewey dinamakan sebagai suatu masalah. Jadi peumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalaha yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan dan alternative cara untuyk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu obyek serta dapat diketahui factor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut.


b. Penyusunan Kerangka Berpikir/Dasar Teori/Landasan Teori

         Penyusunan kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antara berbagai factor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Kerangka berpikir disusun secara rasional berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang telah teruji kebenarannya. Penyususnan kerangka berpikir menggunakan pola berpikir logis, analisis, dan sintesis atau keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Keterangan dalam menyeusun suatu kerangka berpikir dapat diperoleh dari buku-buku, laporan hasil penelitian orang lain, wawancara dengan pakar, atau melalui pengamatan langsung dilingkungan. Keterangan-keterangan tersbeut akan menghasilkan suatu kerangka berpikir. Kerangka berpikir ini berguna sebagai dasar penarikan hipotesis.


c. Penarikan Hipotesis

           Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadapa permasalahan atau pertanyaan yang diajukan berdasarkan kesimpulan kerangka berpikir. Dikatakan sebagai jawaban sementara sebab hipotesis ini baru mengandung kebenaran yang bersipat logis dan teoritis. Namun kebenarannya belum bersifat empiris karena belum terbukti melalui eksperimen. Padahal setelah disepakati bahwa kebenaran ilmu harus mengandung kebenaran yang bersifat logis dan empiris. Penyususnan hepotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian setiap orang berhak menyususn hipotesis tidak hanya terbatas oleh sekelompok orang saja.


d. Pengujian Hipotesis

            Langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan menganalisis data. Data dapat diperoleh melalui berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan penarikan kesimpilan. Pengujian hipotetsis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti atau fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis.


e. Penarikan Kesimpulan

               Penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Jika dalam proses pengujian terdapat bukti yang cukup untuk mendukung hipotesis, maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya jika dalam proses pengujian tidak terdapat bukti yang cukup mendukung hipotesis, maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang kensisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya, serta telah teruji kebenarannya. Teruji kebenarannya berarti tidak ditemikan bukti yang bertentangan.


                Dalam metode ilmiah seluruh langkah-langkah diatas harus dilakukan agar suatu penelitian dapat disebut ilmiah. Langkah-langkah tersebut harus dilakukan secara urut dan benar, karena langkah yang satu merupakan dasar bagi langkah berikutnya. Langkah-langkah yang telah disebutkan diatas harus digunakan sebagai landasan utama dalam penelitian, walau terkadang terjadi berbagai variasi yang berkembang sesuai dengan bidang dan permasalahan yang diteliti.








BENARKAH MAKHLUK HIDUP BERASAL DARI BENDA MATI


             Menurut para ahli makhluk hidup berasal dari benda mati yang kita kenal dengan teori Abiogenesis. Namun seiring berjalannya waktu para ilmuan mulai mengetahui bahwa tidak mungkin makhluk hidup berasal dari benda mati melainkan makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya, oleh karena itu Louis Pasteur Ahli biokimia dan Microbiologi dari Perancis mencoba membuktikannya. Begitu juga dengan saya yang ingin membuktikan kebenarannya.

            Makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya, untuk itu kita akan membuktikannya dengan cara mendidihkan labu yangberisi kaldu tetapi leher labu itu tidak ditutup rapat-rapat melainkan di bentuk seperti huruf “S” sehingga ujungnya tetap terbuka. Sekarang udara segar dapat mencapai bagian dalam labu itu , tetapi Pasteur berpendapat bakteri atau mikroorganisme apapun yang mengapung didalam udara tersebut akan terjebak dalam leher labu yang panjang. Ternyata dengan keadaan yang demikian air kaldunya tetap steril. Sampai ketika air kaldu itu di alirkan keleher labu lalu mengembalikannya kembali. Setelah mendapat perlakuan seperti itu maka setelah beberapa hari makhluk hidup atau mikroorganisme mulai tumbuh di dalam kaldu namun pada labu yang tidak mendapat perlakuan seperti itu tetap tidak terdapat mikroorganisme.

Makhluk hidup yang ada didalam air kaldu berasal dari mikroorganisme yang ada di dalam udara yang ikut masuk pada saat air kaldu di alirkan keleher labu. Jadi , makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya .

Hubungan antara teori dengan penelitian ilmiah


         Hubungan antara teori dengan penelitian ilmiah adalah teori merupakan hasil dari penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah yang diterima dan didukung akan berkembamg menjadi suatu teori yang kemudian menjadi prinsip. Dalam melakukan penelitian ilmiah kita memerlukan teori-teori yang sudah ada sebelumnya untuk menjadi referensi kita dalam melakukan penelitian ilmiah agar penelitian ilmiah kita dapat mengembangkan teori yang sudah ada atau menciptakan teori yang baru dengan bukti-bukti yang benar dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan penelitian ilmiah kita juga dapat membuktikan apakah teori kita benar atau salah. Jadi , teori dengan penelitian ilmiah sangat berkaitan satu sama lain. Teori dibutuhkan untuk mendukung penelitian ilmiah yang kemudian akan berkembang menjadi teori yang benar dan dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.

       Agar kutipan atau kesimpulan yang kita ambil tersebut merupakan teori yang dapat dicari kebenarannya dengan fakta yang ada berupa sumber atau pengarang yang kita ambil kutipannya, selain itu kita juga dapat menghargai karya orang lain, dan juga dengan mencantumkan identitas teori yang kita ambil dapat diketahui bahwa teori itu bukan merupakan karangan kita sendiri, serta dapat mempermudah si pembaca mengetahui sumber penelitian kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar